Ketika Tuhan Menciptakan Pria dan Wanita.

Pada saat Sang Pencipta telah
selesai menciptakan pria. Ia baru
menyadari bahwa Ia juga harus
menciptakan wanita.
Padahal semua bahan untuk
menciptakan manusia sudah
habis dipakai untuk menciptakan
pria.
Kemudian Sang Pencipta
merenung sejenak, dan
kemudian Ia mengambil
lingkaran bulan purnama,
kelenturan ranting pohon
anggur, goyang rumput yang
tertiup angin, mekarnya bunga,
kelangsingan dari buluh galah,
sinar dari matahari, tetes embun
dan tiupan angin.
Ia juga mengambil rasa takut
dari kelinci dan rasa sombong
dari merak, kelembutan dari
dada burung dan kekerasan dari
intan, rasa manis dari madu dan
kekejaman dari harimau, panas
dari api dan dingin dari salju,
keaktifan bicara dari burung
kutilang dan nyanyian dari
burung bul-bul, kepalsuan dari
burung bangau dan kesetiaan
dari induk singa.
Dengan mencampurkannya
bahan semua itu, maka Sang
Pencipta membentuk wanita dan
memberikannya kepada pria.
Pria itu merasa senang sekali
karena hidupnya tidak merana
dan kesepian seorang diri.
Setelah satu minggu, pria itu
datang kepada Tuhan, katanya:
‘Tuhan,ciptaan-Mu yang telah
Engkau berikan kepadaku
membuat hidupku tidak bahagia.
Ia bicara tiada henti sehingga
aku tidak dapat beristirahat. Ia
minta selalu untuk diperhatikan.
Ia mudah menangis karena hal-
hal sepele.
Aku datang untuk
mengembalikan wanita itu
kepada-Mu, karena aku tidak
bisa hidup dengannya’.
‘Baiklah’, kata Sang Pencipta.
Dan Ia mengambilnya kembali.
Beberapa minggu kemudian, pria
itu datang lagi kepada Tuhan,
dan berkata, ‘Tuhan, sejak aku
memberikan kembali wanita
ciptaan-Mu, kini aku merana
kesepian.
Tiada lagi yang
memperhatikanku, tiada lagi
yang menyayangiku. Aku selalu
memikirkan dia, ke mana pun
aku pergi, aku selalu ingat dia.
Makan tidak enak, tidur tidak
nyenyak. Aku rindu kepadanya.
Di kala aku sendirian,
kubayangkan wajahnya yang
cantik, kubayangkan bagaimana
ia menari dan menyanyi.
Bagaimana ia melirik aku.
Bagaimana ia bercakap-cakap
dan manja kepadaku. Ia sangat
cantik untuk dipandang, dan
sedemikian lembut untuk
disentuh. Aku suka akan
senyumannya.
Tuhan, kembalikan lagi wanita
itu kepadaku!’.
Sang Pencipta berkata, ‘Baiklah’.
Ia memberikan wanita itu
kembali kepadanya.
Tetapi, tiga hari kemudian pria
itu datang lagi kepada Tuhan
dan berkata, ‘Tuhan, aku tidak
mengerti.
Mengapa dia memberikan lebih
banyak lagi kesusahan dari pada
kegembiraan. Dia semakin
menyebalkan. Aku tidak tahan
lagi dengan sikap dan tingkah
lakunya. Aku berdoa kepada-
Mu.
Ambillah kembali wanita itu. Aku
tidak dapat lagi hidup
dengannya’.
Sang Pencipta balik bertanya,
‘Kamu tidak dapat hidup lagi
dengannya?’.
Pria itu tertunduk malu, ia
merasa putus asa. Dalam hatinya
ia berkata, ‘Apa yang harus aku
perbuat? Aku tidak dapat hidup
dengannya, tetapi aku juga tidak
dapat hidup tanpa dia. Tuhan,
ajarilah aku untuk mengerti apa
arti hidup ini?’.
‘Belajarlah untuk memahami
perbedaan dan belajarlah untuk
berani menerima perbedaan
dalam hidupmu! Pahamilah dan
usahakanlah apa yang menjadi
kebutuhan mendasar dari
pasangan hidupmu!’, jawab
Tuhan.
Dan inilah enam kebutuhan
mendasar pria dan wanita:
1. Wanita membutuhkan
perhatian, dan pria
membutuhkan kepercayaan.
2. Wanita membutuhkan
pengertian, dan pria
membutuhkan penerimaan.
3. Wanita membutuhkan rasa
hormat, dan pria membutuhkan
penghargaan.
4. Wanita membutuhkan
kesetiaan, dan pria
membutuhkan kekaguman.
5. Wanita membutuhkan
penegasan, dan pria
membutuhkan persetujuan.
6. Wanita membutuhkan
jaminan, dan pria membutuhkan
dorongan

Arti Sebuah Mencintai.

Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.

Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Segalanya mungkin terjadi dengan cinta. Cinta membuat hidup ini jadi indah bukan ?
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.
Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.
Dew hadir dalam kehidupanku.
Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya.

Dew berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis."
Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses,akan menjadi sangat menarik bagi para gadis."

Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor"

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? "
Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.
Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.
Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,"Ada sesuatu yang harus kukatakan"
Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.

"Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.
Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut,"kenapa?" "Aku serius."

Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki-laki!".
Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami.Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.

Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..
Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana:
Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?"

Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.
Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu."

Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku.
Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,"  ia mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali" Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku.Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita."
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana."

Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar. Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,
seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.

Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, "Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang"

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok.
Lalu ia melihat, "Semua pakaianku kebesaran".
Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.
"Pa,sudah waktunya membopong mama keluar"
Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir.
Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah.
Ia berkata, "Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua".
Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.

Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. Kamu tidak demam".

Kutepiskan tangannya dari dahiku "Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu"

Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?
Aku tersenyum, dan menulis  
" Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua..."

SEKARANG Cinta Harus Memiliki.

CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI.....????
Kata Siapa???
Para Pujangga, Ahli, Dokter Ataukah Pengamat CINTA???
Lalu, Apa Mereka Mau Bertanggung Jawab Terhadap Kepedihan Hati Kita??
Saat Melihat Orang Yang Begitu Kita Cintai & Sayangi Bahagia Dengan Orang Lain???
Apakah Mereka Punya Obat??
Untuk Mengobati Luka Hati Karena Mengatasnamakan " CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI "
Hingga Kita Merelakan " Dia " Yang Begitu berarti Buat Kita
Dengan Senyuman Bahagia Menginjak Kebahagian Kita
Merebutnya, Lalu Menggantinya Dengan Kesedihan Dan Kesendirian.
Lalu, Dimana Arti " CINTA ITU BUTUH PERJUANGAN " ????
Huhhh, That's All A Bullshit.....

Trus, Kalo Begitu Kapan Kita Bahagia???
Kita Juga Punya Hak Untuk Bahagia
Bukan Hanya Dia Yang Merasa Menang Diatas Kesendirian Kita
Bukan Hanya Dia Yang Tersenyum Melihat Kita dan Kekosongan Berpadu

CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI...????
Klise, Memang!!!
Dan Itu Membuktikan Bahwa Cemburu Itu Ada
Karena Cemburu Itu Manusiawi.
Menurutku, Itu Kata - Kata Para PENDUSTA
Orang Munafik Yang Tidak Mau Membahagiakan Hatinya
Orang yang Selalu Mengkhianati Isi Hatinya
Gimana Mau Setia Sama Cinta, Sedangkan Hati Sendiri DiKhianati


Dan Sekarang Saatnya CINTA HARUS MEMILIKI
Ada Saatnya Kita Berkorban Untuk Orang Lain, Demi Bahagianya Karena Cinta.
Tapi, Apakah Kamu Sudah Berkorban Demi Hatimu Sendiri???
Sebelum Berkorban Dengan Orang Lain???
Karena CINTA BUTUH PERJUANGAN
Dan CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI Seolah-olah Menghapuskan Makna Perjuangan.
Seolah-olah Membuatnya Tidak Berarti.

Ingat, KAMU JUGA PANTAS BAHAGIA
Dan, ITU HAK KAMU.

Jangan Biarkan Orang Lain MEREBUT BAHAGIAMU
Lalu MENCIPTAKAN DERITA UNTUKMU
Hingga MEREKA TERTAWA DI ATASNYA.

Benarkah Wanita Menyukai Pria Romantis?

Dan saya tidak pernah habis
pikir! Saya tidak mengerti.
Kenapa wanita-wanita itu tidak
pernah mau mengerti dan
menghargai ketulusan saya dan
membalas perasaan saya?
Tidakkah mereka lihat bahwa
saya rela melakukan apa saja
untuk mereka?
Dan ternyata alasannya begitu
simple! Begitu simplenya sampai
saya kesal dengan diri saya
sendiri yang begitu bodoh dan
tidak menyadari hal ini sedari
dulu. Seharusnya itu bisa
menyelamatkan saya dari masa-
masa kelam ketika berlagak
sebagai Ksatria Romantic Junkie.
Sekarang saya akan
menjelaskannya khusus untuk
Anda agar Anda tidak lagi
mengulang kesalahan yang
sama. Kalau Anda termasuk
salah satu Ksatria Romantic
Junkie, maka pastikan Anda
sedang tidak sibuk sekarang dan
berikan konsentrasi Anda
sepenuhnya.
Wanita memang menyukai hal-
hal romantis, karena wanita
hidup dalam dunia fantasi yang
diciptakan oleh dongeng-
dongeng, buku-buku dan film.
Mereka memimpikan momen-
momen romantis yang
menyentuh hati. Mereka ingin
mengalami momen-momen
indah seperti yang mereka baca
dan lihat lewat buku dan film.
Semua wanita ingin tahu
bagimana rasanya
membentangkan tangan dan
dipeluk oleh pria di ujung kapal
Titanic, sementara angin
berhembus membelai rambut
dan sayup-sayup terdengar lagu
‘My Heart Will Go On’. Mereka
menunggu seumur hidupnya
untuk momen-momen seperti
itu! It’s their dream!
Tapi ada satu hal PENTING yang
perlu Anda ketahui:
WANITA HANYA MENYUKAI
HAL-HAL ROMANTIS DARI PRIA
YANG DISUKAINYA!

Kalau dia SUDAH tertarik pada
Anda terlebih dahulu maka dia
akan sangat menyukai segala
tindakan romantis yang Anda
berikan. Bahkan hal-hal kecil
sekalipun, seperti sms: “ndut
jelek!” secara tiba-tiba, akan
terasa sweet dan romantis bagi si
wanita.
Tapi kalau dia sama sekali
BELUM tertarik pada Anda,
maka segala macam bentuk
tindakan romantis Anda tidak
akan menyentuh hatinya dan
membuatnya menyukai Anda!
Kalau dia TIDAK tertarik pada
Anda, maka segala tindakan
romantis yang Anda lakukan;
menunggunya bertahun-tahun,
memberikan hadiah mahal,
bunga, puisi, lagu dan candle
light dinner hanya akan
dipandangnya sebagai tindakan
yang menggelikan dan ‘just
another trick to get her’.
Wanita bisa membaca apakah
Anda melakukan segala aksi
romantis itu hanya karena Anda
NGAREP dan berusaha
membuatnya tertarik juga pada
Anda, atau apakah Anda
memang pria berkualitas yang
membuatnya merasa spesial.
Wanita tahu apa motivasi Anda!
Jadi jangan coba-coba
mengelabui wanita dalam hal ini
because you will fail miserably.
Coba ingat-ingat pengalaman
Anda ketika ada wanita yang
sama sekali tidak Anda suka
ngarep pada Anda dan mulai
memberikan aksi-aksi romantis;
membawakan Anda makanan,
membelikan Anda kado,
menelpon Anda setiap hari,
mengirim sms-sms romantis dan
segala macam aksi lainnya.
Apakah Anda tiba-tiba jadi suka
padanya hanya karena dia
melakukan semua hal itu? Atau
sebaliknya, Anda malah jadi
malas dan menghindar? Silakan
Anda jawab sendiri.
Jadi ingat baik-baik! Sangat
penting bagi Anda untuk
MEMASTIKAN apakah dia
SUDAH tetarik pada Anda atau
belum, sebelum Anda
memutuskan untuk memberikan
segala macam bentuk
romantisme kepadanya.
Saya tahu banyak pria yang
memiliki jiwa Ksatria Romantis
(biasanya pria-pria yang berjiwa
seni). Saya sama sekali tidak
melarang Anda untuk
melakukan aksi-aksi romantis. It’s
fun, it’s sweet, it’s nice dan kalau
dilakukan dengan tepat dapat
meningkatkan hubungan Anda
dengan si wanita ke tingkat yang
tidak pernah Anda bayangkan
sebelumnya.
Tapi, demi Leonardo DiCaprio,
mulai hari ini lupakan tentang
aksi romantis kalau si wanita saja
TIDAK tertarik pada Anda! Itu
tidak akan membuat Anda ke
mana-mana!
Aksi romantis seharusnya adalah
ekspresi perasaan bahagia
karena Anda dan si wanita saling
tertarik dan menyukai satu sama
lain. Aksi romantis BUKAN
merupakan ekspresi dari
perasaan NGAREP dan mengemis
berusaha membuat si wanita
untuk tertarik kepada Anda!
Ketika wanita membayangkan
momen romantis, ksatria
berkuda putih yang membawa
bunga dan memanjat dinding
istana untuk menyelamatkannya,
dia tidak membayangkan sosok
Anda yang LOSSY dan NGAREP!
Yang ada dalam bayangannya
adalah sosok pria yang
berkualitas. Sosok pria yang bisa
membuat hatinya bergetar.
Sosok pria yang disukainya.
Sosok Ksatria Sejati. Sosok pria
GLOSSY.
Jadi lupakan dulu soal romantis-
romantisan, dan fokuskan segala
sumber daya yang Anda punya
untuk meningkatkan diri Anda
dan kepribadian Anda, supaya
Anda bisa menjadi pria GLOSSY
yang berkualitas dan disukai oleh
wanita-wanita.
Setelah itu, baru Anda boleh
bertanya pada saya tentang tips-
tips romantis yang akan
membuat si wanita mengalami
momen spesial yang belum
pernah dia alami selama
hidupnya.
Glossyromantic,
Kei Savourie

Bersyukurlah.... :)

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana . Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat . Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

NITA

Assalamu Alaikum,,,,
Perkenalkan.... Nama saya Yuli Arnita, anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Muh. arfah dan Rosmarlin. Saya lahir pada tanggal 20 Juli 1995 di kota Bulukumba. Saat ini, masih berumur 16 tahun lebih dan bersekolah di SMAN 1 Bulukumba kelas 2 IPA yang bernomor induk 13674.
Bisa berada di lingkungan SMAN 1 Bulukumba membuat saya senang karena meski tidak setenar dulu tapi sekolahku ini masih sebagai sekolah unggulan di kabupaten Bulukumba. Di sanalah saya bertemu dengan banyak teman lagi yang saya dapatkan selain di SMP lalu.

Mengenai nama saya yaitu "YULI ARNITA" tentu bukan sekedar nama yang diberikan kedua orang tuaku, mereka mengartikan nama ini dengan anak perempuan yang yang lahir di bulan juli. Bulan juli ini juga yang menjadi bulan yang paling saya tunggu-tunggu setiap tahunnya.

Untuk kali ini, sekian yang dapat saya bagikan tentang data diri saya. Selanjutnya akan saya ceritakan natinya. :)

22 Fakta Unik serta Mitos Tentang Warna Biru


1. Sebuah pembelajaran membuktikan bahwa seorang pengangkat beban dapat mengangkat beban yang berat lebih baik dalam gymnasium yang berwarna biru.

2. Dalam kebudayaan Roma dahulu, warna biru digunakan oleh pihak yang dipekerjakan sebagai pelayan masyarakat atau pihak berwajib. Itulah mengapa kebanyakan polisi diberbagai belahan dunia khususnya di Amerika Serikat identik dengan warna biru. Ini merupakan ciri dari filosofi kebudayaan Roma.

3. Dalam sebuah pabrik, rata - ratra biru melambangkan peralatan yang sedang diperbaiki.

4. Biru juga melambangkan sistem surat menyurat yang menggunakan udara (air mail) dan Angkatan Laut (Navy).

5. Sebuah survey membuktikan bahwa biru adalah produk warna sweeter wanita yang paling laris diperjual belikan. Karena, kebanyakan wanita berfikir para lelaki menyukainya.

6. Warna yang paling banyak disukai oleh laki - laki.

7. Dalam kepercayaan tertentu biru melambangkan kemurahan surga.

8. Di India biru dipercayai membawa nasib yang buruk.

9. Di dalam kebudayaan tradisional China Biru melambangkan rasa sakit.

10. Biru adalah warna utama, dari 3 warna utama (merah - hijau - biru).

11. 8 % dari penduduk di seluruh dunia memiliki warna mata biru.

12. Di UK biru menjadi lambang warna dari waspada penyakit kanker testis.

13. Di US kotak surat kantor pos umumnya berwarna biru

14. Biru adalah warna umum dari sikat gigi di berbagai dunia.

15. Nyamuk lebih tertarik untuk mendatangi warna biru dibandingkan dengan warna yang lainnya.

16. Blue Bird tidak bisa melihat warna biru.

17. Burung Hantu adalah satu -satunya burung yang bisa melihat warna biru.

18. Warna biru cerah pertama kali ditetapkan di Inggris pada tahun 1915.

19. Warna biru banyak digunakan di dalam kantor, karena penelitian membuktikan orang - orang lebih produktif dalam ruangan berwarna biru.

20. Setelah 15 tahun permen warna - warni Skittles di Amerika baru memutuskan untuk membuat permen warna biru.

21. Maksud kata - kata 'Feeling blue' adalah saat seseorang merasa sedih.

22. Maksud dari Frase 'Once in blue moon' adalah peristiwa dari yang jarang terjadi.